Showing posts with label peristiwa. Show all posts
Showing posts with label peristiwa. Show all posts

Thursday, June 17, 2010

Selamat Datang di Purwodadi

Sudah satu bulan aku menghirup udara Purwodadi. Kebetulan aku tinggal di dekat Simpang Lima Purwodadi yang merupakan salah satu jantung kota ini. Aku baru mengenal beberapa keluarga, dan alhamdulillah mereka semua begitu baik pada keluarga kami.

Purwodadi adalah ibukota kabupaten Grobogan. Kabupaten ini adalah kabupaten terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Cilacap. Meskipun baru daerah Purwodadi yang kukena tapi aku sudah betah di sini. Sebenarnya sih aku siap ditempatkan dimana saja selama dekat dengan suami dan anakku.

Karena sekarang kesibukanku adalah konsen sama perkembangan anak, jadi ya tiap hari sam si kecil terus. Setiap satu bulan sekali aku ikut kumpulan ibu-ibu Pengadilan Agama yang dinamakan Dharmayukti Karini. Meskipun agak canggung dengan suasana baru, tapi aku berusah untuk santai. Namanya juga orang baru jadi ya nggak banyak ngomong.

Pengadilan Agama Purwodadi termasuk paling banyak menangani kasus setiap tahunnya. kalu diperingkat pengadilan agama ini menempati ranking kedua se Jateng. Jadi tugasnya cukup berat, jadi maklum lah kalau lihat suami pulang kerja begitu lelah.

Tapi, kalau penat begitu biasanya kita refreshing jalan-jalan di keramaian Sinpang Lima di waktu sore. Banyak tukang jualan di sana yang sangat kurindu saat di Kairo. Ada Serabi, Sate ayam, mie goreng, pecel, otak-otak bandeng, de el el.

Anyway....wa ala kulli hal....i'am happy here.....!

Saturday, August 23, 2008

Refleksi Kemerdekaan ke-63

Alhamdulillah negara kita kini sudah berusia 63 tahun. Jika diibaratkan sebagai manusia, usia tersebut sudah selayaknya menikmati hasil kerja keras yang telah dicapai. Atau kalau meminjam istilah para pegawai, sudah waktunya untuk pensiun. Namun sepertinya tidak elok jika Indonesia yang sebuah negara disamakan dengan manusia. Karena semua berharap Ibu pertiwi kita selalu hidup dan menyaksikan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh putra-putra bangsanya. Kita tidak ingin Indonesia tutup usia ataupun berhenti berproduksi.

Tahun ini, di hari kemerdekaan Republik Indonesia putra bangsa menghadiahi kado emas dari Olimpiade beijing 2008. Sungguh mengharukan, lagu kebangsaan Indonesia akhirnya berkumandang di event olahraga paling bergengsi di dunia itu. Tidak hanya itu, bapak Presiden kita SBY juga dikaruniai seorang cucu cantik dari anak pertamannya Agus Harimurti yang menikah dengan Anisa Pohan. Sungguh mengharukan, semoga cucu presiden kita menjadi tunas bangsa yang sholehah dan berguna.

Tidak ketinggalan dengan di tanah air, di Kairo pun diadakan berbagai acara dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-63 itu. Salah satu lomba yang aku ikuti adalah lomba karya tulis populer yang alhamdulillah masuk nominasi 5 besar.

Tadi malam, tanggal 22 Agustus 2008 adalah acara malam tasyakuran kemerdekaan Indonesia. Acara ini dihadiri oleh seluruh warga negara Indonesia di Mesir. Acaranya bertempat di City Gymn, sebuah stadion olahraga di kawasan Nasr City. Para hadirin tampak memenuhi semua ruangan tersebut. Kebetulan aku datang saat tempat masih lengang.

Dalam acara tersebut, Bapak Duta Besar Indonesia di Kairo memberikan hadiah kepada para pemenang lomba. Wah ternyata banyak sekali juaranya, pemenangnya berderet dari ujung kanan sampai ujung kiri pas dengan lebar stadion tersebut.

Tapi sayang ada satu hal yang membuat itu tidak menarik menurutku, yaitu sound sistem yang tidak jelas bagi para hadirin di tribun sebelah kanan panggung tempat aku duduk. Menarik sudah pasti, tapi karena tidak didukung oleh suara yang jelas, acara itu jadi kurang sempurna.

Kini jumlah mahasiswa di Kairo sekitar 6000 orang, jumlah yang sangat besar. Harapanku, semoga semua mahasiswa itu bisa membanggakan ibu pertiwi dan membuat tanah air kita semakin dipandang di dunia internasional. Sudah setengah abad lebih Indonesia merdeka, tentunya ibu pertiwi layak kita hadiahi dengan kado-kado istimewa berupa kesuksesan-kesuksesan putra bangsanya.

Dirgahayu Indonesia, semoga tahun depan aku bisa kembali meminum airmu dan mencium tanahmu.

Tuesday, April 17, 2007

Badai Debu Kairo

Pagi ini aku pergi ke kampus agak terlambat, karena kupikir duktur yang akan hadir pada hari ini pun akan terlambat. Selain karena biasanya beliau terlambat, cuaca hari ini pun tidak begitu bersahabat. Pukul tujuh pagi ini, sebelum siap-siap berangkat, kusempatkan membuka kabar tentang prakiraan cuaca hari ini di Nile akhbar, ternyata hari ini cukup panas yang ditunjukkan dengan angka 36 derajat untuk ukuran maksimum hari ini.

Aku pun siap-siap dengan pakaian tipis, agar tidak kepanasan nantinya. Di dalam rumah aku tak merasakan kondisi sebagaimana yang ada di luar. Namun setelah kulangkahkan kakiku dari pintu gerbang apartemenku, ooh..ternyata angin begitu kencang ditambah debu yang bertebaran tertiup angin nan berhembus begitu kuat. Kulangkahkan kakiku dengan mantap meuju kampu meskipun angin dan debu terus mengelilingiku.

Hawa begitu panas, ingin rasanya aku di rumah menikmati segelas air dingin, hmm...yah tapi sudah kubulatkan tekadku untuk kuliyah hari ini.

Setengah jam kemudia akhirnya aku pun sampai di kampusku tercinta. Alhamdulillah kendaraan menuju kampus tidak begitu sulit pagi ini. Meskipun harus membayar agak mahal karena kendaraan yang kutumpangi bukan bis umum tapi eltramco yang harganya nggak pasti selalu berubah menurut selera sang sopir. Tak apalah yang penting aku sampai di kampus.

Sesampainya di depan kelas, ternyata duktur sudah ada di dalam, mungkin beliau baru saja tiba melihat keadaannya yang masih berdiri dan baru mengucap salam. Aku pun langsung memposisikan diri tepat di depan duktur, tempat biasanya aku duduk. Bukan di mudaraj seperti yang lain tapi aku membawa sendiri sebuah kursi dan kuletakkan pas di depan podium duktur. Karena aku pikir, mudarraj terlalu penuh di bagian depan, sedang aku nggak mau duduk di bagian belakang, karena suara duktur pastinya tak jelas.

Aku begumam dalam hati, kok duktur Izzah yang masuk, bukankah beliau di jam terakhir, madah ulum quran? Seharusnya sekarang duktur Abdussalam, madah tauhid.

Beberapa menit setelah kubergumam, duktur Abdusalam muncul, dan duktur Izzah pun undur diri karena jam ini hak duktur Tauhid. Muhadoroh tauhid pun dimulai.

Setelah satu jam setengah lamanya, akhirnya pelajaran tauhid pun selesai. Kami tingkat dua ushuluddin, keluar sejenak karena kelas dipakai oleh tingkat empat hadis. Tak kusangka begitu keluar kelas, yang kulihat di luar langit sangat gelap, ternyata badai debu pagi tadi masih berlanjut bahkan semakin parah siang ini.

Bau debu sagat menusuk, udara begitu pengap dan panas. Hawa yang tidak nyaman, kotor, berdebu dan panas, oh jauh sekali ibanding dengan Indonesiaku yang tak pernah ada badai debu. Semua tempat berdebu, lantai, dinding, kursi, jendela, kaca, semuanya.

Aku pun ingin mengabadikan momen ini dengan kamera digital yang kubawa. Aku pun keluar dan memotret dua buah tempat di sekitar halaman kampus yang ditiup angin dan debu. Yup aku pun kembali masuk ke dalam mabna qodim. dan mencari tempat nyaman untuk duduk.

Maka pukul tiga siang, berakhirlah semua mmuhadoroh hari ini. Kondisiku begitu lelah dan lesu. Dengan langkah lunglai akupun pulang menuju mahattoh kuliyah banat yang jaraknya cukup membuatku terkena sengatan matahari dan debu lama.

Ketika aku ingin mengabadikan momen ini lagi, tak kusangka, kamera ku tak bekerja...Aduh kenapa ini?
Aku kebinungan mencari sebab rusaknya kameraku, sepertinya aku tidak melakukan apa-apa yang membuat dia rusak deh....

Ya sudah akhirnya kuputuskan untuk cepat-cepat sampai ke rumah dengan mempercepat langkahku menuju halte. Akhirnya mobil pun aku dapatkan setelah agak lama menunggu. Huh debu dan panas, benar-benar membuatku sakit dan pusing. Perasaanku juga jadi ikut-ikutan nggak mood.

Sesampainya di rumah aku langsung mengguyur semua badanku. Debu begitu penuh menempel di bajuku. Terbukti dengan hitamnya air sabun yang kutuang ke bajuku.

Oh badai debu

cepatlah berlalu

ku tak mau

kau mengikuti selalu